Mitos Pekerjaan Impian

bagaimana narasi karier membuat kita stres

Mitos Pekerjaan Impian
I

Pernahkah kita menatap layar laptop pada jam tiga sore, menghela napas panjang, dan diam-diam bertanya: apakah ini pekerjaan impian saya? Kita hidup di era yang terus menerus membisikkan satu mantra magis kepada kita sejak kecil. Lakukan apa yang kamu cintai, maka kamu tidak akan merasa bekerja sehari pun seumur hidupmu. Kedengarannya sangat indah. Sangat puitis. Namun jujur saja, berapa banyak dari kita yang justru merasa kelelahan karena terus mengejar standar tak kasat mata ini? Kita secara kolektif dibuat percaya bahwa karier bukan sekadar cara untuk bertahan hidup, melainkan inti dari identitas kita. Jika kita tidak bangun pagi dengan semangat membara untuk pergi ke kantor, seolah-olah ada yang salah dengan diri kita. Tapi, bagaimana jika saya katakan bahwa narasi tentang dream job atau pekerjaan impian ini sebenarnya adalah salah satu ilusi modern terbesar yang pelan-pelan sedang menggerogoti kesehatan mental kita?

II

Mari kita mundur sejenak dan melihat sejarah. Selama ribuan tahun, leluhur kita tidak pernah memusingkan soal passion dalam bekerja. Bagi mereka, bekerja adalah murni soal bertahan hidup. Berburu, bertani, atau membuat perkakas. Titik. Tidak ada krisis eksistensial tentang apakah memanen gandum sungguh sejalan dengan panggilan jiwa mereka. Perubahan drastis ini baru terjadi secara masif pada abad ke-20. Para sosiolog mencatat adanya pergeseran budaya yang radikal. Bekerja tidak lagi dilihat sebagai kewajiban, melainkan sarana utama untuk aktualisasi diri. Kita mulai mengadopsi apa yang oleh para ahli disebut sebagai workism, sebuah dogma yang meyakini bahwa pekerjaan tidak hanya harus memberikan gaji, tapi juga harus memberikan makna spiritual, komunitas, dan tujuan hidup paripurna. Ekspektasi kita terhadap pekerjaan menjadi sangat tidak masuk akal. Kita menuntut satu entitas—yakni tempat kerja kita—untuk memenuhi semua hierarki kebutuhan psikologis kita. Pertanyaannya, apakah otak manusia memang dirancang untuk menanggung beban ekspektasi seberat itu?

III

Di sinilah kita mulai melihat retakan pada dinding ilusi tersebut. Coba kita perhatikan fenomena di sekitar kita. Angka burnout atau kelelahan mental kronis terus menyentuh rekor tertinggi. Secara psikologis, ketika kita mengaitkan harga diri kita sepenuhnya pada sebuah pekerjaan, kita sebenarnya sedang bermain api. Saat karier kita tersendat atau dikritik, kita tidak hanya merasa gagal secara profesional, tapi kita merasa hancur sebagai seorang manusia. Otak kita merespons ancaman identitas buatan ini sama persis seperti ancaman fisik di alam liar. Bagian otak bernama amigdala menyala terang. Hormon stres seperti kortisol membanjiri aliran darah kita terus-menerus. Kita pun terjebak dalam siklus kecemasan. Menariknya lagi, ilmu saraf menunjukkan sebuah paradoks yang menyebalkan. Semakin keras kita menuntut kebahagiaan absolut dalam satu bidang, semakin kebahagiaan itu menjauh. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sistem saraf kita ketika kita akhirnya beruntung mendapatkan apa yang kita kira sebagai pekerjaan impian? Mengapa kepuasan itu kerap menguap begitu saja?

IV

Jawabannya terletak pada molekul kecil yang sangat sibuk di otak kita bernama dopamin. Dopamin sering disalahartikan oleh budaya pop sebagai hormon kebahagiaan. Padahal, secara ilmiah, dopamin adalah molekul antisipasi dan hasrat. Ia memberi kita sensasi euforia saat kita mengejar sesuatu, bukan saat kita duduk manis menikmatinya. Ketika kita akhirnya meraih posisi manajer atau masuk ke perusahaan rintisan impian itu, otak kita dengan cepat beradaptasi. Para psikolog menyebut fenomena adaptasi ini sebagai hedonic treadmill. Kita terus berlari mengejar pencapaian, tapi secara emosional kita tetap berada di titik yang sama. Pekerjaan impian kita dengan cepat berubah menjadi rutinitas biasa. Email keluhan klien tetaplah menyebalkan, secinta apa pun kita pada industri tersebut. Di sisi lain, memaksakan diri agar selalu bergairah di tempat kerja justru menekan produksi serotonin—hormon yang bertanggung jawab memberi kita rasa damai, rasa cukup, dan penerimaan atas apa yang ada di sini dan saat ini. Secara biologis, manusia tidak didesain untuk menemukan euforia yang stabil setiap hari dari tumpukan pekerjaan.

V

Jadi, teman-teman, mari kita lepaskan beban berat itu dari pundak kita bersama-sama. Tidak memiliki pekerjaan impian bukanlah sebuah kegagalan hidup. Faktanya, memandang pekerjaan sekadar sebagai instrumen untuk mendanai kehidupan nyata kita adalah sebuah bentuk kewarasan mental yang luar biasa. Kita boleh menganggap pekerjaan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Kita memiliki hak penuh untuk sekadar menukar keahlian dan waktu kita dengan uang, lalu menutup laptop pada jam lima sore untuk menjalani hidup yang sebenarnya. Mari kita temukan identitas kita di tempat-tempat lain yang tak kalah bermakna. Mungkin kita adalah seorang sahabat yang selalu bisa diandalkan, seorang pengadopsi kucing liar yang penuh kasih, atau sekadar manusia biasa yang pandai menikmati secangkir kopi di keheningan pagi. Pekerjaan yang baik sama sekali tidak harus menjadi pekerjaan impian. Pekerjaan yang sehat adalah pekerjaan yang menghargai tenaga kita, memenuhi kebutuhan finansial kita, dan menyisakan ruang bagi kita untuk bernapas lega. Mulai detik ini, mari kita berhenti mengejar fatamorgana, dan mulai merangkul kenyataan bahwa nilai kemanusiaan kita jauh, jauh lebih besar daripada sekadar jabatan yang tertulis di kartu nama.